Blackout pada lansia, jatuh dan susah untuk bisa berdiri bahkan jadi lumpuh, kenapa ?

 Sering kejadian kasus lansia terjatuh kemudian susah berdiri karena saraf bermasalah akibat jatuh, kadang lumpuh namun penyebab jatuh tersebut adalah blackout. Apa sebenarnya yang terjadi ?

Sangat penting untuk memahami masalah ini, sebuah situasi yang sangat sering dan serius dalam dunia geriatri (kesehatan lansia). Sebuah siklus yang kompleks dan berbahaya.

Mari kita break down, dimulai dari penyebab blackout (jatuh) hingga konsekuensi saraf dan lumpuh.

1. Penyebab "Blackout" yang Menyebabkan Jatuh

"Blackout" atau pingsan mendadak (dalam istilah medis sering disebut sinkop) bukanlah sebuah diagnosis, tetapi sebuah gejala dari kondisi yang mendasarinya. Pada lansia, penyebabnya sangat beragam dan sering multifaktor (lebih dari satu penyebab).

Penyebab utama blackout pada lansia:

· Hipotensi Ortostatik: Ini adalah penyebab sangat umum. Ini terjadi ketika tekanan darah turun drastis secara tiba-tiba saat berpindah posisi, misalnya dari duduk atau berbaring ke berdiri. Otak tidak mendapat cukup darah yang kaya oksigen untuk sesaat, menyebabkan pusing, pandangan kabur, dan blackout. Penyebabnya bisa dehidrasi, efek samping obat (obat hipertensi, diuretik, obat Parkinson), atau gangguan sistem saraf otonom.

· Aritmia (Gangguan Irama Jantung): Jantung tiba-tiba berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Ini mengganggu pompa darah ke otak dan seluruh tubuh, menyebabkan blackout. Kondisi seperti atrial fibrilasi, sick sinus syndrome, atau heart block sering ditemukan.

· Sinkop Vasovagal: Reaksi berlebihan dari saraf vagus yang dipicu oleh faktor tertentu seperti rasa sakit, ketakutan, stres emosional, atau bahkan buang air besar/ kecil yang mengejan. Ini memperlambat denyut jantung dan melebarkan pembuluh darah, mengurangi aliran darah ke otak.

· Penyakit Jantung Struktural: Misalnya stenosis katup aorta (penyempitan katup jantung utama), yang menghalangi aliran darah dari jantung.

· Efek Samping Obat-Obatan: Obat-obatan untuk tekanan darah, diabetes (yang bisa menyebabkan hipoglikemia/ gula darah rendah), obat penenang, dan obat psikiatri dapat menyebabkan pusing dan blackout.

· Dehidrasi dan Anemia: Keduanya mengurangi volume atau kapasitas pembawa oksigen dalam darah, membuat otak lebih rentan kekurangan oksigen.

 

2. Mengapa Jatuhnya Menyebabkan Masalah Saraf yang Parah dan Lumpuh?

Ini adalah bagian kritisnya. Jatuh itu sendiri adalah sebuah trauma fisik yang dampaknya pada tubuh lansia jauh lebih berat daripada pada orang muda.

a. Trauma Langsung pada Tulang dan Saraf Tulang Belakang (Spinal Cord):

· Fraktur Kompresi Vertebra: Saat jatuh, terutama di bokong atau punggung, tulang belakang (vertebra) yang sudah rapuh akibat osteoporosis bisa patah dan remuk. Pecahan tulang ini dapat menekan atau bahkan melukai saraf tulang belakang yang berada di tengah-tengahnya.

· Cedera Saraf Tulang Belakang Leher (Cervical Spine): Jatuh dan kepala terbentur atau terhentak keras dapat menyebabkan fraktur atau dislokasi pada tulang leher. Ini sangat berbahaya karena saraf tulang belakang di leher mengontrol seluruh tubuh dari leher ke bawah. Kerusakan di sini dapat menyebabkan kelumpuhan pada keempat anggota gerak (quadriplegia).

b. Trauma pada Kepala dan Otak:

· Perdarahan Subdural: Ini adalah komplikasi sangat berbahaya dan sering terjadi pasca jatuh pada lansia. Pembuluh darah di antara otak dan tengkorak (yang sudah rapuh dan lebih tegang pada lansia) dapat robek saat kepala terbentur. Darah kemudian berkumpul dan membentuk hematoma yang secara perlahan menekan jaringan otak. Gejalanya bisa tidak langsung muncul (mungkin beberapa hari/minggu) berupa sakit kepala, bingung, kelemahan anggota gerak, hingga penurunan kesadaran. Ini adalah kondisi gawat darurat.

c. Konsekuensi Tidak Langsung yang Memperparah:

· Immobilisasi (Tidak Bisa Bergerak): Setelah jatuh, terutama jika disertai patah tulang panggul (fraktur femur/hip fracture), lansia sering kali terbaring di lantai untuk waktu yang lama sebelum ditemukan. periode immobilitas ini menyebabkan:

 · Rhabdomyolysis: Kerusakan jaringan otot akibat terhimpit berat badan sendiri yang lama. Ini melepaskan protein beracun yang dapat merusak ginjal.

  · Dehidrasi dan Pneumonia: Berbaring lama meningkatkan risiko dehidrasi dan pneumonia (karena penumpukan cairan di paru-paru).

· Sindrom Post-Fall: Lansia menjadi takut untuk jatuh lagi. Rasa takut ini membuat mereka membatasi aktivitas, yang justru menyebabkan otot menjadi lebih lemah (sarkopenia), keseimbangan memburuk, dan akhirnya semakin meningkatkan risiko jatuh lagi di kemudian hari. Ini adalah lingkaran setan.

Ringkasan Siklus Kejadian:

1. Penyebab Medis: Sebuah kondisi (misal: aritmia atau hipotensi) menyebabkan blackout.

2. Trauma: Blackout menyebabkan jatuh tanpa kendali, sehingga benturannya sangat keras.

3. Cedera Sekunder: Benturan ini menyebabkan cedera serius seperti patah tulang panggul,     perdarahan otak, atau cedera saraf tulang belakang.

4. Kompilkasi: Cedera ini, ditambah dengan waktu immobilisasi yang lama, menyebabkan kelemahan ekstrem, kerusakan saraf permanen, atau lumpuh.

Apa yang Harus Dilakukan?

1. Segera ke UGD: Setiap kali lansia jatuh, terutama dengan penyebab blackout, harus dievaluasi di rumah sakit. Ini bukan hal sepele.

2. Evaluasi Menyeluruh: Dokter akan mencari penyebab blackout (rekam jantung/EKG, Holter monitor, tilt test, ekokardiogram) dan memeriksa akibat jatuhnya (CT Scan kepala, Rontgen tulang belakang/panggul, MRI tulang belakang jika dicurigai cedera saraf).

3. Rehabilitasi: Jika terjadi kelemahan atau lumpuh, fisioterapi dan rehabilitasi medik sangat penting untuk memulihkan fungsi sebanyak mungkin dan mencegah komplikasi immobilisasi.

4. Pencegahan: Mengelola penyebabnya (atur obat, pakai pacemaker untuk aritmia), memastikan rumah aman (pencahayaan baik, lantai tidak licin, pegangan tangan di kamar mandi), dan latihan untuk meningkatkan kekuatan dan keseimbangan.

Kesimpulan :

Blackout adalah alarm darurat dari tubuh yang menandakan adanya masalah sistemik (jantung, tekanan darah, dll), dan jatuh adalah trauma yang memperburuk keadaan dengan menyebabkan kerusakan struktural langsung pada sistem saraf yang sudah rentan. Keduanya harus ditangani dengan serius.

Reff. diatas , masukan dari Deepseek yang punya bank data dunia.

Solusi alternatif adalah dengan Elektro Akupresur atau SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure) Therapy. Cepat, efektif, alamiah dan aman. Sudah banyak kasus serupa diatas yang terbantu, caranya bagaimana ? Menggunakan  Microcurrent Pen pada akupoin (titik akupunktur) yaitu LU-9 Taiyuan (efektif membersihkan pembuluh darah), P-6 Neiguan (memperbaiki sirkulasi jantung), Ren-14 Juque (memperbaiki jantung), Ren-17 Shanzhong (memperbaiki jantung dan paru-paru) masing-masing 5 menit, akibat jatuh digunakan SP-9 Yinlingquan, ST-36 Zusanli, SP-6 Sanyinjiao, LIV-3 Taichong dan K-1 Yongquan. Terapinya non invasive (tidak melukai) dan tidak ada efek samping, serta alamiah, hanya sekitar 30-60 menit setiap sesi terapi, cocok sekali untuk para lansia. Salam sehat.

www.selactherapy.blogspot.com

Ir.H.Ansuska Gumanti (+62 812 2024 270)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STROKE dengan Elektro Akupresur, cepat, efektif, alamiah dan aman.

Selac Therapy, Mengembangkan terapi listrik yang terukur.